Nyadran Dusun Warak Kidul

Nyadran Dilaksanakan pada bulan Ruwah/Sya’ban sebagai tradisi mengirim doa kepada para leluhur. Nyadran diadakan di makam Warak Wetan, Ledok Warak, dan Jetis sebagai bentuk penghormatan dan menjaga hubungan spiritual dengan para pendahulu.

A. Yang terlibat dalam kegiatan Nyadran 

a. Warga dusun/keluarga yang memiliki leluhur dimakamkan di lokasi setempat.
b. Sesepuh desa / tokoh agama yang memimpin doa.
c. Pemuda/pemudi dusun yang membantu persiapan tempat dan kebersihan makam.

B. Bacaan/Mantra yang dibaca ketika acara ritus

a. Surat pendek dalam Al-Quran
b. Tahlil
c. Doa Penutup

C. Perlengkapan Ritus

a. Perlengkapan Kebersihan Makam
a) Sapu lidi
b) Cangkul kecil
c) Ember air
d) Bunga tabur
b. Sesaji / Berkat
a) Nasi berkat
b) Jajan pasar
c) Tumpeng kecil (opsional)
d) Buah-buahan
c. Perlengkapan Doa
a) Kitab tahlil / yasin
b) Air minum dan snack untuk jamaah
c) Sajadah / tikar untuk duduk
d) Pengeras suara (jika pakai)
d. Perlengkapan Tambahan
a) Kemenyan

D. Proses rangkaian Wiwitan

Nyadran dimulai dengan kegiatan bersih makam oleh warga, biasanya dilakukan secara gotong royong di makam Warak Wetan, Ledok Warak, atau Jetis. Warga membersihkan rumput, menyapu area makam, dan menata bunga tabur yang akan digunakan dalam ritual. Setelah area siap, warga berkumpul dan duduk rapi untuk mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh. Rangkaian tahlil dan doa arwah dipanjatkan untuk mendoakan para leluhur, memohon ampunan, dan memuliakan jasa mereka. Setelah doa selesai, warga menaburkan bunga di pusara dan menutup kegiatan dengan makan bersama atau membagikan berkat yang sudah disiapkan dari rumah. Nyadran menjadi momen untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga tradisi penghormatan kepada leluhur.