Padukuhan Bakalan : Dari Nama Kyai Bakal dan Nyai Bakal

Padukuhan Bakalan, Kalurahan Sumberadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Dukuh Bapak Sudarmaji (65 tahun) menjelaskan, pada awalnya wilayah Padukuhan Bakalan masih berupa hutan belukar yang luas. Banyak ditumbuhi pepohonan yang besar dan kecil dan menjulang tinggi. Dedaunan dari pepohonan yang besar itu sangat rimbun. Di samping itu juga banyak ditumbuhi semak-semak belukar yang rimbun dan luas.

Semula tempat yang masih seperti hutan itu, didiami oleh dua orang yang pertama kali datang ke tempat itu. Kedua orang suami istri yang datang entah dari mana asalnya tersebut terus mengamati dan memandangi hutan yang luas itu. Keduanya sepakat akan menempati tempat itu. Mengetahui tempat yang ada dihadapannya masih berupa hutan belukar, akhirnya keduanya terus membuka hutan itu.

Lokasi tempat yang sekiranya dapat dibuka, kedua orang itu pun terus membuka. Dengan sabit dan cangkul dan peralatan sederhana lainnya, Pepohonan dan semak-semak belukar mulai di tebangi dan di bersihkan. sampai memakan waktu berminggu-minggu. Tanpa mengenal lelah, kedua orang itu pun terus menebangi pepohonan dan semak-semak belukar yang ada di situ.

Keringat yang terus bercucuran membasahi kedua pipinya itu, tidak pernah dihiraukan oleh keduanya. Sesekali keduanya beristirahat di bawah pohon yang rindang setelah rasa haus tidak tertahankan karena rasa lelah dan panasnya matahari yang menyengat di tubuhnya. Sampai beberapa hari, kedua orang itu terus membuka lahan hutan dan semak-semak belukar. Akhirnya beberapa lokasi bisa dibuka, untuk dijadikan lahan pekarangan, sawah, tempat tinggal dan sebagainya.

Seiring dengan perjalan waktu yang terus bergulir dan merangkak, seperti merangkaknya sinar matahari, akhirnya lambat laun tempat itu di datangi lagi oleh beberapa orang. Pengembaraan yang begitu panjang dan sangat melelahkan dari orang-orang tersebut, menjadikan orang –orang itu terus menetap dan tinggal di situ.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Sudarmaji, dari nama Bakalan, dimungkinkan diambil dari kata ”bakal”. Kata bakal artinya yang mengawali adanya sesuatu yang pertama kali. Menurut cerita yang sifatnya turun menurun dari masyarakat, akhirnya kedua orang pertama yang membuka lahan dan tinggal ditempat itu menamainya dengan sebuatan: “Bakal”. Kemudian penyebutannya menjadi”Bakalan”.

Sedangkan kedua orang suami istri yang pertama kali menempati tempat itu oleh masyarakat diberi nama Kiai Bakal dan Nyai Bakal. Padukuhan Bakalan saat ini menjadi bagian dari wilayah Sumberadi. Di sebelah utara berbatasan dengan Padukuhan Jumeneng, sebelah selatan dengan Padukuhan Cabakan, sebelah timur dengan Padukuhan Sayidan dan sebelah barat dengan wilayah Kalurahan Margomulyo atau Sungai Konteng.

Lebih lanjut Sudarmaji yang menjadi Dukuh Bakalan sejak dua tahun yang lalu dan Rusbandi,SE salah seorang perangkat Kalurahan Sumberadi menambahkan, Padukuhan Bakalan terletak tidak jauh dari Kalurahan Sumberadi. Untuk kegiatan warganya, telah di bangun pendapa padukuhan. Pendapa Padukuhan Bakalan itu terbuat dari kerangka atau balungan dari kayu Nangka. Bangunan pendapa itu sudah berumur sangat tua. Bahkan mungkin telah berumur beberapa ratus tahun. Walau pun sudah berumur ratusan tahun, tetapi sampai sekarang masih utuh, kokoh dan kuat. Dengan tembok terbuat dari gedheg kulit bambu ternyata juga masih kokoh.

Semua kerangka atau balungan bangunan pendapa diberi cat pernis, Sehingga kelihatan mengkilat. Bangunan pendapa peninggalan leluhur itu menjadi saksi sejarah pada saat perjuangan tentara Indonesia bersama rakyat melawan penjajahan Belanda. Tokoh perjuangan yang tidak dapat ditinggalkan dari tempat itu adalah sosok Simbah Karto Pawiro. Beliau Simbah Karto Pawiro ikut berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar tahun 1840-1842 sampai akhir hayatnya.

Kehidupan masyarakat di Padukuhan Bakalan mencerminkan kehidupan yang rukun, saling mengharagai dan menghormati serta rasa kebersamaan yang telah melekat kuat sejak dulu. Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Namun juga ada yang memeluk agama Katolik, Kristen dan Hindu. Kebanyakan masyarakatnya sebagian besar menjadi buruh. Seperti buruh tani, buruh pembangunan, petani, pedagang dan juga industri rumah tangga.

Asal usul Nama Padukuhan Bakalan

Seperti telah diuraikan diatas, pada awalnya Padukuhan Bakalan hanya dihuni oleh dua orang yang merupakan suami istri. Dari mana asalnya kedua orang itu, sampai saat ini tidak ada yang tahu secara pasti. Saat keduanya datang, tempat di temukan itu masih berupa hutan belantara. Keduanya terus membuka tempat itu dan dijadikan tempat pemukiman yang layak dan nyaman.

Lambat laun orang yang datang terus bertambah. Siapa saja yang mengembara dan sampai di tempat itu mereka pun terus menetap dan tinggal di situ. Dalam kurun waktu beberapa tahun, tempat itu sudah ba- nyak dihuni oleh banyak orang. Mereka membuka lahan itu menjadi lahan sawah, lahan pekarangan, lahan untuk tempat tinggal dan sebagainya.

Ketika orang penghuni pertama meninggal dunia. Kedua jasadnya te- rus di makamkan tidak jauh dari rumah tinggalnya, Oleh masyarakat terus diberi nama Mbah (Kiai) Bakal. Sebab keduanya merupakan cikal bakalnya tempat itu. Keduanya merupakan orang pertama kali yang tinggal di tempat itu. Kemudian diberi nama Padukuhan Bakal. Agar lebih mudah diingat dan diucapkan, berubah menjadi Bakalan.

Seiring dengan perkembangan jaman dan jumlah penduduk yang terus bertambah, akhirnya wilayah Padukuhan Bakalan terbagi menjadi beberapa padukuhan baru. Adapun pemekaran wilayah baru di Padukuhan Bakalan menjadi empat padukuhan yakni Padukuhan Bakalan, Padukuhan Candi, Padukuhan Gedongan dan Padukuhan Bedelan.

Padukuhan Candi

Nama padukuhan ini dinamakan Candi. Sebab banyak bekas peninggalan batu-batu candi yang saling berserakan di sekitar tempat itu.. Di tempat ini banyak terdapat batu-batuan bekas bangunan candi. Juga banyak di temukan arca-arca artefak. Namun sayang, arca-arca tersebut sekarang sudah tidak ada. Karena telah diamankan oleh instansi terkait sekitar tahun 1974.

Batu-batuan yang lain yang masih dan ditemukan oleh masyarakat te- rus dititipkan di Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan. Sekarang masih banyak dijumpai batu-batuan yang tercecer dalam bentuk tidak utuh lagi. Karena banyak ditemukan bebatuan bekas bangunan candi maka kemudian diberi nama Padukuhan Candi yang berada di wilayah Bakalan bagian utara.

Padukuhan Gedongan

Banyak warga yang membangun rumah di wilayah Padukuhan Bakalan di bagian selatan. Mereka membuat rumah-rumah untuk tempat tinggal. Rumah-rumah itu di bangun secara sederhana. Bahannya diambilkan dari daun tebu yang telah kering, dari daun kelapa dan terus dianyam, Di samping itu juga dari daun ilalang yang juga terus dianyam menjadi seperti gedheg. Gedheg itu sebagai dinding rumah dan sebagai tiangnya adalah bambu agar menjadi kuat, tidak mudah roboh.

Lama-kelamaan pembuatan rumah mulai dengan dinding tembok dengan bahan batu bata, meskipun belum menggunakan semen.Tetapi masih menggunakan adonan tanah. Pada awalnya membangun rumah menggunakan adonan tanah. Dinding tembok yang direkatkan dengan adonan tanah itu ternyata menjadi kuat. Bangunan rumah yang dibuatnya itu, kemudian disebutnya bangunan “gedong”.. Kemudian tempat itu diberi nama Gedongan, diambil dari nama “gedong”. Akhirnya terus membangun rumah dengan bahan batu bata secara gotong royong. Agar lebih kuat, kokoh dan tidak mudah roboh. Wilayah Padukuhan Gedongan ada di Bakalan bagian selatan.

Padukuhan Bedelan

Untuk mempermudah transportasi bagi warganya, maka atas kesepakatan bersama, masyarakat mulai membangun jalan baru. Pembangunan jalan baru itu membelah sebagian wilayah Padukuhan Bakalan. Pembangunan jalan baru itu oleh warga setempat disebut atau dinamakan: “dibedel”.

Dibedel artinya dibelah menjadi dua wilayah atau dua bagian. Oleh sebab itu wilayah baru itu kemudian diberi nama Bedelan. Nama Bedelan diambil dari kata “dibedel”. Padukuhan Bedelan ada di wilayah Padukuhan Bakalan bagian timur.

Dijelaskan, di Padukuhan Candi masih ada kebiasaan atau tradisi yang masih dilakukan oleh sebagian warga. Karena tinggall di dekat Sungai Konteng. maka warga menfaatkan air sungai untuk keperluan sehari- hari. Seperti untuk mandi, mencuci pakaian, untuk menyirami tanaman, untuk membersihkan peralatan pertanian sepulang dari sawah, untuk membersihkan alat-alat dapur, untuk memandikan hewan ternak dan sebagainya,

Bahkan dulu untuk mencuci beras (mususi) yang akan dimasak. Tetapi sekarang tradisi tersebut tinggal satu dua orang saja yang masih melakukannya. Sebab setiap warga kebanyakan sudah memiliki sumur untuk keperluan setiap harinya.

Tradisi yang pernah dilakukan masyarakat

Keberadaan Sungai Konteng tentunya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat setempat. Khususnya yang tinggal dekat dengan sungai. Waktu dulu banyak tradisi yang pernah dilakukan oleh masyarakat setempat di Sungai Konteng yaitu:

  1. Mengambil air harus diamati dengan saksama. Sebab jangan sampai ada ikan yang ikut terbawa Sebab pernah terjadi, ikannya ikut terbawa pulang dan orang tersebut menjadi kesurupan.
  1. Mandi dan bermain harus berdoa (amit-amit) Dengan maksud minta ijin kepada yang menunggu. Agar selama mandi di situ selamat dan tidak terjadi sesuatu yang menimpanya Sebab menurut cerita, ada anak yang disunat oleh makhluk halus ketika mandi, sebab tidak amit-amit atau kula nuwun.
  2. Mencuci, Beras harus disisakan sedikit. Kemudian di taruh di atas batu yang ada di sekitar sungai. Sebab jika tidak menyisakan beras, akan terjadi hal- hal yang tidak diinginkan. Hal tersebut mengajarkan orang harus banyak bersedekah kepada orang yang tidak mampu.
  1. Kalau ada warga Padukuhan Candi yang punya hajat, harus memberi jenang katul yang ditaruh dicobek (cowek). Terus di taruh di atas batu nisan Mbah Sebab menurut cerita, dulu pernah terjadi ada keluarga yang punya hajat menjadi kesurupan karena tidak memberi jenang.
  2. Tradisi Nyadran tiap tahun.Tradisi itu untuk melestarikan budaya para leluhurnya. Saat ini tradisi nyadran sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman. Seperti diselingi dengan acara ceramah dari para ustad, dari tokoh masyarakat dan tokoh –tokoh yang lainnya. Isi ceramahnya tentang program pembangunan, sosial kemasyarakatan dan sebagainya.

Pembuat Artikel: Ngatinah, S.Pd
Tenaga Ahli Penulis: Achiayadi, S.Pd
Foto: Ngatinah, S.Pd